Friday, September 16, 2016

Merenda Hampa


“Assalaamualaikum,” kuucapkan salam.
“Waalaikumussalaam,” jawabnya.
“Duh, Hening ngagetin aja.” sambil berdiri menyambut kedatanganku dengan pelukan yang hangat. Cantik sekali dia dengan seragam hijau itu, seragam yang beberapa bulan belakangan ini sering kuimpikan untuk memakainya.  
 “Ibu persit udah lama?” candaku memulai percakapan.
“Kan sudah biasa kalau yang menunggu itu selalu aku,” ejeknya.
Putri adalah istri dari seorang perwira TNI. Sejak berkeluarga Putri sungguh menikmati hidupnya. Dia terlihat bahagia dengan 2 anak laki-laki penurut dan suami yang bertanggungjawab. Tidak pernah dia bercerita hal yang jelek tentang rumah tangganya. Semua perfect.
 “Aku baru pulang arisan Persit,” lanjutnya. Sudah kuduga kenapa dia memakai seragam hijau itu. Rupanya tadi pagi ada arisan bulanan di Kodim tempat suaminya berdinas. Sudah 2 bulan Putri tidak menghadirinya karena asalan sibuk. Tapi kali ini dia dipaksa suaminya untuk hadir.

“Malas banget ikut arisan begitu,” katanya suatu hari. Andaikan kamu tahu Put, betapa inginnya hati ini menjadi bagian dari keluarga besar Persit, dan memakai seragam hijau itu setiap bulan, ucapku dalam hati.
 Tak berapa lama, seorang gadis muda dengan batik yang sama dengan yang menyambutku di depan pintu restoran datang. Dia mengulurkan dua buku menu kepada kami.
“Pesan apa, Ibu?” lembut terdengar suaranya.
Aku tebak gadis muda ini berusia 17-20 tahunan. Wajahnya ayu. Ditambah dengan make up yang rada tebal di pipi. Bibir merahnya tak habis-habis menyunggingkan senyum. Ada sebuah cincin  melingkar di jari manisnya. Seperti cincin kawin. Hatiku berdetak. Suka baper jika melihat kenyataan wanita mudah yang jauh dibawahku sudah berumah tangga.


“Udah dulu ya dik, itu aja.” Putri menyerahkan buku menu ke gadis muda itu.
Lah, kan aku belum pesan? Aku bingung. Sudahlah, pikirku. Sudah tidak sabar mendengar cerita yang dibilangnya penting ketika menelpon tadi malam.
 “Hening,” katanya.
Jantungku tidak karuan. Aku sudah yakin ini ada hubungannya dengan Andi, seorang laki-laki yang namanya selalu ada di benakku akhir-akhir ini. Andi yang membuatku tidak bisa berpikir logic. Andi yang membangkitkan gairah hidupku kembali. Andi yang dengannya aku menemukan cinta itu kembali.
Apakah sebuah kebetulan bila profesi Andi sama dengan profesi Bang Indra, suami Putri. Aku memanfaatkan ini untuk mencari-cari info tentang Andi melalui Bang Indra. Mereka pun sangat mendukung hubunganku dengan Andi. Berkali-kali mereka mendesak aku untuk segera meresmikan hubungan kami ke jenjang selanjutnya. Aku perempuan bisa apa? Perempuan hanya bisa menunggu. Menunggu kepastian dari lelakinya.
Putri memperbaiki tempat duduknya. Dia menatap lekat ke arahku. Aku juga menatapnya. Dengan senyum yang dipaksakan Putri menggenggam erat kedua tanganku. Sesekali tanganku diremasnya. Kurasakan aliran kasih seorang sahabat mengalir ke seluruh tubuhku. Hangat.
“Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita hambaNya. Apa yang kita angankan belum tentu itu baik buat kita. Karena kita tidak tahu masa depan.”
Aku mengangguk pelan. Aku pura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraan Putri. Aku tidak mau menduga-duga hal yang terburuk yang sedang menunggu di depan sana. Aku masih mau berhusnudzon kepada Allah.
Putri melepaskan genggamannya. Tatapanku tak beralih sedikitpun ke matanya. Dia mengambil handphone dari dalam tas hitam mungil di sampingnya.
“Ada yang mau kutunjukkan kepadamu, sayang. Aku tidak mau kamu berlarut-larut dalam penantian yang tak pasti ini.”
Putri menyodorkan handphone ke depanku. Diputarnya sehingga aku bisa melihat apa yang ada di handphone itu dengan cukup jelas. Kurasakan sendi-sendiku lemas seakan tak sanggup untuk menyangga tubuh ini lagi. Panas mengalir ke seluruh tubuhku. Dadaku berdegup sangat kencang. Bibirku bergetar tertutup rapat. Kelopak mata ini seperti sudah tak sanggup lagi untuk menahan terjangan air yang akan mengalir di pipiku. Ya Allah, benarkah ini? Kenapa Engkau memberikan ujian yang cukup berat ini kepada hamba? Ya Allah aku tidak sanggup.
Kurasakan Putri sudah berada di sampingku. Kepalaku direbahkan di atas pundaknya. Lembut dibelainya. Air matanya jatuh di atas pipiku. Ternyata Putri juga menangis. Menangisi nasib sahabatnya yang sungguh menyedihkan ini. Badanku terguncang-guncang. Tidak ada suara tangis. Hanya air mata yang membasahi.
Kuangkat kepala dari pundaknya Sesaat kami terdiam. Tidak ada kata-kata. Kami cuma bertatapan. Menumpahkan segala isi hati dengan deraian air mata. Kupandang sekali lagi layar handphone itu. Laki-laki itu, dia yang setahun belakangan selalu mengusik mimpi malamku. Dia yang selalu hadir dalam doa sepertiga malamku. Dia yang selalu jadi topik pembicaraanku pada Septia, Rina dan tentunya Putri ketika hatiku merindukannya. Tetapi aku tidak mengenal perempuan yang di sebelahnya, yang mengenakan pakaian persis dengan yang dikenakan Putri saat ini.
“Itu foto apa?” tanyaku. Aku masih berharap ada jawaban lain dari Putri. Sebuah jawaban yang tidak sama dengan yang ada dipikiranku saat ini. Putri sepertinya sudah paham maksud dari pertanyaanku.
“Nikah kantor” jawabnya singkat. Harapan itu pun sirna.
“Kapan?” sambungku.
“Kalau tidak salah seminggu yang lalu.” Aku tidak perlu mempertanyakan asal foto itu dan kebenaran info itu.
Dari jauh terlihat dua pegawai restoran menuju kesini membawa pesanan kami.
“Aku mau pulang saja" kataku setengah berbisik. Gairahku tiba-tiba hilang. Padahal menu di sini selalu menggugah selera. Saat ini aku hanya ingin sendiri. Aku mau menenangkan pikiran agar aku tersadar apa sebenarnya yang telah terjadi.
“Maaf ya Dik. Tolong pesanannya di bungkus aja. Teman saya kurang enak badan” begitu kata Putri kepada pegawai yang membawa makan siang kami.
“Iya, Bu" kemudian mereka berbalik meninggalkan kami.
Putri memeluk bahuku, menepuk-nepuknya perlahan, kemudian mencium pipiku.
“Aku sudah whatsapp abang, biar jeput aku di rumahmu saja” kata Putri. Setelah pesanan kami diantar, kami pun berjalan menuju mobilku. Khawatir dengan kondisiku, Putri menawarkan untuk menyetir. Kuserahkan kunci kepadanya. Kami diam sepanjang perjalanan pulang. Tidak ada satu patah kata pun terdengar. Aku tidak tahu apakah aku bisa melalui ini semua. Jiwaku serasa melayang terbang bersama hilangnya harapan. Aku hampa ya Allah.
Sampai di rumah aku langsung masuk kamar. Tidak kuperdulikan dua ponakanku memanggil namaku. “Bude... Bude...” teriak mereka sambil mengikuti langkahku ke kamar. “Bude ada es klem?” tanya si adik dengan suara cadelnya. “Maaf ya sayang, Bude mau bobok. Nanti ya kita beli es krimnya” lirih suaraku. Kemudian mereka ngeloyor pergi sambil berlompat-lompat. Selalu riang gembira.
Ku ganti pakaianku. Mengambil wudhu. Kujalankan kewajibanku sebagai hamba Allah. Saat ini aku merasakan betuk-betul sangat membutuhkanmu ya Allah.
Kudengar suara pintu kamarku dibuka, saat aku sedang mencurahkan isi hatiku kepada sang pemilik hati sesungguhnya. Aku belum mau beranjak dari sajadah ini. Atau sebenarnya aku tidak sanggup untuk beranjak. Aku merasa tenang saat mengingatNya.
Ternyata Putri sudah duduk di sudut tempat tidur memandangku dalam. Kupalingkan wajahku ke arahnya. Terdiam. Seribu bahasa. Buliran hangat itu tak tertahan mengalir membasahi mukenaku. Putri melangkah dan duduk disampingku. Kembali kami berpelukan tanpa kata. Hanya air mata.
“Dia jahat!” jeritku.
“Jadi apa maksudnya selama ini terus menghubungi aku? Aku sudah tua bukan anak-anak yang gila akan kata-kata gombal dan cinta. Aku sudah tuaaa...” suaraku semakin tak jelas.
“Kenapa dia tega berbuat begini samaku? Salahku apa ya Allah” suaraku serak terisak.
“Menangislah sayang... Semoga sakit hatimu bisa keluar bersama aliran air mata.” sambil menepuk-nepuk pundakku. Tiba-tiba kurasakan kepalaku berdenyut pening sekali. Aku bangkit dari sajadah. Kubuka mukena, mencoba untuk membaringkan tubuh yang sedang tersiksa batinnya ini di atas tempat tidurku. Putri mengikuti gerakanku. Kini dia sudah duduk kembali di tepi tempat tidur. Sahabatku, terima kasih telah berada di sampingku.
***
Aku terbangun mendengar suara panggilan di handphone. Putri. Kugeser panel hijau ke atas.
“Udah bangun sayang?” suara dari seberang.
“Maaf kutinggal ya. Bang Indra sudah jeput. Kulihat kamu nyenyak banget tidurnya.”
“Iya gak apa-apa. Aku mau sholat ashar dulu ya.”
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan angka 5. Kepalaku masih agak puyeng. Aku baru tersadar apa yang telah terjadi padaku siang tadi.
Sebelum keluar kamar untuk beres-beres di dapur, aku cek handphoneku. Ada 2 panggilann tak terjawab dan pesan whatsapp. Mau apa lagi dia menghubungi aku? Apa dipikirnya aku belum tahu tingkah lakunya disana? Apa dia masih mau melancarkan bujuk rayunya? Kurasakan mataku mulai memanas. Kelopak mataku mulai penuh dengan genangan hangat. Ya Allah, aku tidak mau menangisi dia lagi. Nama itu. Aku benci nama itu.
Aku tak pernah membayangkan sedikitpun semuanya akan berakhir seperti ini. Selama 6 bulan kami berkomunikasi kurasakan semuanya baik-baik saja. Tidak pernah ada sesuatu yang aneh yang dia lakukan. Semua berjalan wajar seperti biasa.
Dia tetap menghubungiku. Menanyakan kabar dan kesiapanku untuk menjadi ibu dari 3 orang anaknya. Karena jarak yang memisahkan, kami hanya bisa berbagi kabar lewat telpon atau vidiocall. Sebulan sekali barulah kami bisa kopi darat untuk melepaskan segala rindu yang sebulan hampir berkarat.
Satu hal yang menambah kebahagiaan hatiku adalah dia memperkenalkan sulungnya kepadaku. Hanna namanya. Hanna gadis manis yang beranjak remaja, sudah duduk di bangku smp kelas 8.
"Halo, ini Mama Ning" terdengar suara kekanakan dari seberang sana. Terkejut aku bukan kepalang. Belum pernah seumur hidup ada yang memanggilku dengan sebutan itu.
"Iya, benar. Ini dengan siapa?" jawabku ingin tahu.
"Ini Hanna, Ma. Anaknya Papa Andi" jelasnya.
Selanjutnya aku semakin dekat dengan Hanna. Dia pun sudah mulai terbuka dan terbiasa untuk ngobrol berlama-lama denganku.
Satu hal yang belum sempat dilakukannya adalah memperkenalkan aku ke orangtuanya.
"Sabar ya Non. Aku janji jika semua sudah siap aku akan bawa kamu ke orangtuaku" begitu selalu janjinya.
Aku pun tidak terlalu memaksa. Karena betul juga katanya, hal yang serius seperti ini butuh persiapan yang matang dari kedua belah pihak.
Padahal selama aku dalam penantian menunggu janjinya, ada laki-laki yang sudah siap melamarku. Dengan kedudukan yang jauh lebih hebat daripada Andi. Tetapi aku sudah terlanjur menitipkan hatiku padanya. 
Sejak tadi beberapa nomor yang tidak dikenal menghubungi hpku. Tidak satupun kupedulikan. Sedangkan nomor dia sudah sejak kemarin kublokir. Saat ini aku ingin menghapus lukaku, dengan tidak berkomunikasi lagi dengannya.
Oh angin...
Bawalah untaian doa ini kepada Sang Pemilik Jagat Raya...
Katakan bahwa aku hamba yang tidak pernah putus asa...
Oh angin...
Bisikkan kepada hati
Bahwa sebentar lagi pasti muncul pelangi

0 comments:

Post a Comment